Kompetensi Profesionalisme Guru

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya maka sangat dibutuhkan peran pendidik yang profesional. Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Untuk itu profesionalisme guru dituntut agar terus berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing baik di forum regional, nasional maupun internasional.
Guru merupakan peranan penting terhadap keberhasilan implementasi kurikulum KTSP, karena gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum di dalam kelas. Gurulah garda terdepan dalam implementasi kurikulum. Guru adalah kurikulum berjalan. Sebaik apa pun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu guru yang memenuhi syarat, maka semuanya akan sia-sia. Peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak cukup dengan pembenahan di bidang kurikulum saja, tetapi harus juga diikuti dengan peningkatan mutu guru di jenjang tingkat dasar dan menengah. Tanpa upaya meningkatan mutu guru, semangat tersebut tidak akan mencapai harapan yang diinginkan.
Oleh karena itu, keberadaan guru yang professional tidak bisa ditawar-tawar lagi. Guru yang professional adalah guru yang memiliki sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya. Ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yakni kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 2).
Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi professional akan menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara mengajar di mana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.
Dalam suasana seperti itu, peserta didik secara aktif dilibatkan dalam memecahkan masalah, mencari sumber informasi, data evaluasi, serta menyajikan dan mempertahankan pandangan dan hasil kerja mereka kepada teman sejawat dan yang lainnya. Sedangkan para guru dapat bekerja secara intensif dengan guru lainnya dalam merencanakan pembelajaran, baik individual maupun tim, membuat keputusan tentang desain sekolah, kolaborasi tentang pengembangan kurikulum, dan partisipasi dalam proses penilaian. Berikut akan diuraikan tentang kompetensi professional yang harus menjadi andalan guru dalam melaksanakan tugasnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah kompetensi itu?
2. Bagaimanakah konsep guru sebagai profesi?
3. Bagaimanakah standart kompetensi guru itu?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kompetensi
2. Untuk mengetahui konsep guru sebagai profesi
3. Untuk mengetahui stndart kompetensi guru
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kompetensi Profesionalisme Guru
A.1 Pengertian Kompetensi
Di dalam bahasa Inggris terdapat minimal tiga peristilahan yang mengandung makna apa yang dimaksudkan dengan perkataan kompetensi.
1. “competence (n) is being competent, ability (to do the work)”
2. “competent (adj.) refers to (persons) having ability, power, authority, skill, knowledge, etc.(to do what is needed)”
3. “competency is rational performance which satisfactory meets the objectives for a desired condition”
Definisi pertama menunjukkan bahwa kompetensi itu pada dasarnya menunjukkan kepada kecakapan atau kemampuan untuk mengerjakan suau pekerjaan. Sedangkan definisi kedua menunjukkan lebih lanjut bahwa kompetensi itu pada dasarnya merupakan suatu sifat (karakteristik) orang-orang (kompeten) ialah yang memiliki kecakapan, daya (kemampuan), otoritas (kewenangan), kemahiran (keterampilan), pengeahuan, dan sebagainya. Untu mengerjakan apa yang diperlukan. Kemudian definisi ketiga lebih jauh lagi, ialah bahwa kompetensi itu menunjukkan keada tindakan (kinerja) rasional yang dapat mencapai tujuan-tujuannya secara memuaskan berdasarkan kondisi (prasyarat) yang diharapkan.
Dengan menyimak makna kompetensi tersebut diatas, maka dapat dimaklumi jika kompetensi itu dipandang sebagai pilarnya atau teras kinerja dari suatu profesi. Hal itu mengandung implikasi bahwa seorang professional yang kompeten itu harus dapat menunjukkan kaakteristik utamanya, antara lain:
Ø Mampu melakukan sesuatu pekerjaan tertentu secara rasional. Dalam arti, ia harus meiliki visi dan misiyang jelas mengapa ia melakukan apa yang dilakukannya berdasarkan anlisis kritis dan pertimbangan logis dalam membuat pilihan dan mengambil keputusan tentang apa yang dikerjakannya. “He is fully aware of why he is doing what he is doing”
Ø Menguasai perangkat pengeahuan (teori dan konsep, prinsip dan kaidah, hiptesis dan generalisasi, data dan informasi, dan sebagainya) tentang seluk beluk apa yang menjadi bidang tugas pekerjannya. “He really knows what is to be done and how do it”
Ø Menguasai perangkat keterampilan (strategi dan taktik, metode dan teknik, prosedur dan mekanisme, srana dan instrument, dan sebaginya) tentang cara bagaimana dan dengan apa harus melakukan tugas pekerjaannya. “He actually knows through which ways he should go and how to go through”.
Ø Memahami perangkat persyaratan ambang (basic standards) tentang ketentuan kelayakan normatif minimal kondisi dari proses yang dapat ditoleransikan dan kriteria keberhaslan yang dapat diterima dari apa yang dilakukannya (the minimal acceptable performances).
Ø Memiliki daya (moivasi) dan cita (aspirasi) unggulan dalam melakukan tugas pekerjaannya. Ia bukan sekedar puas dengan memadai persyaratan minimal, melainkan berusaha mencapai yang sebaik mungkin (profesiencies). “He is doing the best with a high achievement motivation”.
Ø Memiliki kewenangna (otoritas) yang memancar atas penguasaan perangat kompetensinya yang dalam batas tertentu dapat didemonstrasikan (observable) dan teruji (meansurable), sehingga memungkinkan memperoleh pengakuan pihak berwenang (certifiable).
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (WJS. Purwadarminta) kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaab untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi (competency) ykni kemampuan atau kecakapan.
Istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna sebagaimana yang dikemukakan berikut.
Descriptive of qualitative natur or tezcher behavior appears to entirely meaningful. Kompetensi merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak sangat berarti. Competency as a rational performance which satisfactorily for a desired condition.
Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. The state of legally competent or qualified.
Menururt UU No. 14/2005 (UUGD), Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”. Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.
Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
Berdasarkan pengertian tersebut, Standar Kompetensi Guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dan disepakati bersama dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten.
Kompetensi menurut Usman adalah “suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif”. Pengertian ini mengandung makna bahwa kompetensi itu dapat digunakan dalam dua konteks, yakni: pertama, sebagai indikator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kedua, sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek kognitif, afektif dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.
Pengertian Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif.
Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.
Dalam pendapat lain juga disebutkan bahwa kompetensi guru (Teacher Competency) the ability of a teacher to responsibly perform has or her duties appropriately. Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi professional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil.
Kompetensi professional guru akan memadai jika ditopang oleh kompetensi personal dan social yang baik sehingga mengantarkannya pada pembelajaran atau pengajaran yang baik.

A.2 Jenis-Jenis Kompetensi

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator
1 Kompetensi Kepribadian:
Kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. 1.1 Kepribadian yang mantap dan stabil a. Bertindak sesuai dengan norma hukum
b. Bertindak Sesuai dengan norma sosial
c. Bangga sebagai guru
d. Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma
1.2 Kepribadian yang dewasa
a. Menampilkan kemandirian dalm bertindak sebagai pendidik
b. Memiliki etos kerja sebagai guru
1.3 Kepribadian yang arif a. Menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat
b. Menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak
1.4 Kepribadian yang berwibawa a. Memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik
b. Memiliki perilaku yang disegani
1.5 Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan a. Bertindak sesuai dengan norma religius (iman, takwa, jujur, ikhlas, suka menolong)
b. Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik
2 Kompetensi Pedagogik:
Meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 2.1 Memahami peserta didik secara mendalam a. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif
b. Memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian
c. Mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik
2.2 Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran a. Memahami landasan pendidikan
b. Menerapkan teori belajar dan pembelajaran
c. Menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang akn dicapai dan materia ajar
d. Menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih
2.3 Melaksanakan pembelajaran a. Menata latar (setting) pembelajaran
b. Melaksanakan pembelajaran yang kondusif
2.4 Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran a. Merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode
b. Menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning)
c. Memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum
2.5 Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya a. Memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik
b. Memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi akademik
c. Memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi akademik
3 Kompetensi Profesional:
Merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya. 3.1 Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi a. Memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah
b. Memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar
c. Memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait
d. Menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari
3.2 Menguasai struktur dan metode keilmuan Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan atau materi bidang studi
4 Kompetensi Sosial:
Merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat 4.1 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik Berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik
4.2 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan Berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan
4.3 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyarakat Berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar

A.3 Perangkat Komponen dan Indikator Kompetensi
Dibalik kinerja yang dapat ditunjukkan dan teruji dalam melakukan sesuatu pekerjaan khas tertentu itu terdapat sejumlah unsure kemampuan yang menopang dan menunjangnya dan secara keseluruhan terstruktur merupakan suatu kesatuan terpadu yang dapat dikonseptualisasikan sebagai segitiga (perhatikan gambar). Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa setia kompetensi pada dasarnya terdapat 6 unsur, yaitu: Performance component, yaitu unsur kemampuan penampilan kinerja yang Nampak sesuai dengan bidang keprofesiannya (teaching, counseling, management, ect.)
· Subject component, yaitu unsur kemampuan penguasaan bahan/substansi pengtahuan yang relevan dengan bidang keprofesiannya sebagai prasyarat (enabling competencies) bagi penampilan komponen kinerjanya.
· Professional component, yaitu unsure penguasaan substansi pengetahuan dan keterampilan teknis sesuai dengan bidang keprofesiannya sebagai prasyarat penampilan kinerjanya.
· Process component, yaitu unsur kemampuan penguasaan proses-proses mental (intelektual) mencakup proses berfikir (logis, kritis, rasional, kreatif ) dalam pemecahan masalah, pembuatan keputusan, dan sebagainya. Sebagai prasyarat bagi terwujudnya penampilan kinerjanya.
· Adjustment component, yaitu unsur kemampuan penyerasian dan penyusaian diri berdasarkan karakteristik pribadi pelaku dengan tugas penampilan kinerjanya.
· Attitudes component, yaitu unsur komponen sikap, nilai, keperibadian pelaku sebagai prasyarat yang fundamental bagi keseluruhan perangkat komponen kompetensi lainnya bagi terwujudnya komponen penampilan kinerja keprofesiannya.
Dari keenam unsur yang membangun secara utuh suatu model perangkat kompetensi dalam suatu bidang keahlian atau keprofesian itu pada dasarnya dapat diidentifikasikan ke dalam dua gugus kompetensi, ialah;
1. Generic competencies (performance competencies)
2. Enabling competencies
Gugus pertama disebut “generic competencies” maksudnya bahwa perangakat kompetensi yang mesti ada pada suatu bidang pekerjaan professional tertentu, karena justru dengan adanya perangkat kompetensi inilah dapat dibedakannya dari jenis/bidang bidang pekerjaan professional lainnya. Jadi, “generic competencies” bagi pekerjaan guru (teaching competencies) akan berbeda dari pekerjaan konselor sekolah (counseling competencies) serta akan berlainan pula dari pekerjaan administrator atau pimpinan sekolah (managerial competencies), dan sebagainya.rincian dan jumlah perangkat “generic competencies” itu juga akan bervariasi secara kontekstual (untuk guru SD, misalnya, berbeda dari guru SLTP atau SMU; di USA, di Indonesia, atau Negara lainnya).namun demikian, dipastikan terdapat kesamaan dan persamaannya (common competencies).
Gugus kedua disebut “enabling competencies” karena merupakan prasyarat untuk memungkinkan dapat dilakukannya “generic competencies”. Tanpa menunjukkan penguasaan secara memadai (proficiency) atas perangkat “enabling competencies” itu mustahil dapat menguasai “generic competencies”.
Gugus perangkat kompetensi pertama pada dasarnya akan diperoleh dan diterbina serta tumbuh kembang melalui peraktik pengalaman lapangan (field training) yang terstruktur dan terawasi (supervized) secara memadai dalam jangka waktu tertentu (sekitar 1-2 tahun). Nampak jelas, umtuk memperoleh pengalaman lapangan seperti itu, hanya dimungkinkan setelah “enabling competencies” terselesaikan terlebih dahulu, yang lazumnya dilakukan melalui program perkuliahan biasa. Namun, patit dicatat pula bahwa perangkat komponen prasyarat tertentu (process, adjustment and attitudes) lazimnya tidak merupakan program perkuliahan atau studi tersendiri, melainkan terbentuk melalui (by product) dari program perkuliahan dan berbagai kegiatan pendukung lainnya.

A.4 Kompetensi kinerja profesi keguruan
Pendektesian sejauh mana seseorang telah memiliki sesuatu kompetensi tersebut, maka diperlukan adanya indikator-indikator yang dapat teramati dan terukur. Dengan hasil pengamatan dan pengukuran di atas itulah tingkat penguasaan (mastery and proficiency) dalam jenis kompetensi tertentu akan dapat diketahui dengan mengacu pada kriteria keberhasilan kinerja minimal yang dapat diterima (the minimal acceptable performance) yang telah ditetapkan (disepakati) terlebih dahulu.
Setiap jenis bidang pekerjaan atau keprofesian sudah seyogianya memiliki ciri-ciri khasnya, baik mengenai perangkat kompetensinya, maupun indicator dengan deskriptornya. Namun demikian, kiranya dapat dimaklumi bila diantara sejumlah bidang pekrjaan atau keprofesian tertentu selain memiliki ciri khasnya itu juga menunjukkan adanya kesamaan satu sama lain, terutama jenis-jenis bidang pekerjaan serumpun, misalnya profesi keguruan(pengajaran) dengan profesi bimbingan dan konseling (BK) dan bidang pekerjaan lainnya dalam gugus (cluster) profesi kependidikan.
Guru yang frofesional adalah guru yang memiliki seperangkat kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan prilaku) yang harus dimilki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesiannya. Kompetensi yang harus dimilki guru berdasarkan undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pada bab IV pasal 10 ayat 91, yang menyatakan bahwa ‘kompotensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social, dan kompetensi profesionalyang doperoleh melalui pendidikan profesi”.
Keempat bidang kompetensi di atas tidak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain dan mempunyai hubungan hierarkhis, artinya saling mendasari satu sama lainnya kompetensi yang satu mendasari kompetensi yang lainnya.
Sudah tentu baik indicator maupun perangkat criteria kberhasilannya akan bervariasi dari satu jenis kompetensi kepada lainnya. Untuk “generic competencies” lazimnya didasarkan pada penampilan actual (on the job action) yang dapat didemonstrasikan serta berbagai produk kegiatan tertentu (SAP, model dan media, hand outs, yang sebagainya) setelah menyelesaikan suatu program pengalam lapangan (PPL). Sedangkan “enabling competencies” lazimnya diidentifikasikan sebagai perubahan pengetahuan dan pemahaman, keterampilan, sikan dan kepribadian sebelyum dan sesudah seseorang menenpuh program-program perkuliahan atau studinya. Kesemuanya itu pada dasarnya dapat diketahui melalui observasi, ujian, laporan tugas dan pengukuran tertentu yang dilakukan oleh para dosen dan pamong, para pembimbing dan juga administrator serta pihakn lainnya.
Kompetensi guru di Indonesia telah pula dikembangkan oleh proyek pembinaan pendidikan guru (P3G) departemen pendidikan dan kebudayaan. Pada dasarnya kompetensi guru menurut P3G betolak dari analisis tugas-tugas seorang guru, baik sebagai pengajar, pembiming, maupun sebagi administrator kelas. Ada sepuluh kompetensi guru menurut P3G, yakni :
· Menguasi bahan
· Mengelola program belajar mengajar
· Mengelola kelas
· Menggunakan media atau sumber belajar
· Menguasai landasan kependidikan
· Mengelola interaksi belajar mengajar
· Menilai prestasi belajar
· Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan
· Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
· Memahami dan menafsirakan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.
Jika ditelaah, maka delapan dari sepuluh kompetensi yang disebutkan tersebut, lebih diarahkan kepada kompetensi guru sebagi pengajar. Dapat disimpulkan pula bahwa kesepuluh kompetensi tersebut hanya mencakkup dua bidang kompetensi guru yakni kompetensi kognitif dan kompetensi prilaku. Kompetensi sikap, khususnya sikap professional guru, tidak tampak. Untuk keperluan analisis tugas guru sebagai pengajar, maka kompetensi kinerja profesi keguruan (generic teaching competencies) dalam penampilan actual dalam proses belajar mengajar, minimal memiliki empat kemampuan. Yakni kemampuan:
1. Merencanakan proses belajar mengajar
2. Melaksanakn dan memimpin atau mengelola proses belajar mengajar
3. Menilai kemajuan proses belajar mengajar
4. Menguasi bahan pelajaran
1. Merencanakan proses belajar mengajar
Kemampuan merencanakan program belajar mengajar bagi profesi guru sama dengan kemampuan mendesain banguan bagi seorang arsitek. Ia tidak hanya bisa membuat gambar yang baik dan memiliki nilai estetis, tetapi juga harus mengetahui makna dan tujuan dari desain bangunan yang dibuatnya. Demikianlah halnya guru, dalam membuat rencana atau program be;lajar mengajar, guru terklebih dahulu mengetahui arti dan tujuan dan perencanaan tersebut, serta menguasi secara teoritis dan praktis unsure-unsur yang terdapat didalamnya. Oleh sebab itu, kemampuan merencanakan program belajar mengajar merupakan muara dari segala pengetahuan teori, keterampilan dasar, dan pemahaman yang mendalam tentang objek belajar dan situasi pengajaran.
2. Melaksanakan dan memimpin/ mengelola proses belajar mengajar
Melaksanakan atau mengelola kegiatan belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan dari program yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar kemampuan yang dituntut adalah kreativitas guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam perencanaan. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar di hentikan, ataukah dirubah metodenya, apakah mengulang dulu pelajaran yang lalu, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Pada tahap ini, disamping pengetahuan-pengetahuan teori tentang belajar mengajar, tentang pelajar, diperlukan pula kemahiran dan keterampilahn teknis mengajar. Misalnya, prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, keterampilan menilai hasil belajar siswa, keterampilan memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan mengajar.
3. Menilai kemajuan proses belajar mengajar
Setiap guru harus dapat melakukan penilaian tentang kemajuan yang telah dicapai oleh siswa, baik secara iluminatif-observatif maupun secara structural-objektif.
Penilaian secara iluminatif-observatif dilakukan dengan pengamatan yang terus menerus tentang perubahan dan kemajuan yang telah dicapai oleh siswa. Penilaian secara structural-objektif berhubungan dengan pemberian skor, angka, atau nilai yang biasa duilakukan dalam rangka hasil penilaian hasil belajar siswa.
4. Menguasi bahan pelajaran
Kemampuan menguasai bahan pelajaran, sebagai bagiab integral dari proses belajar mengajar, hendaknya tidak dianggap pelengkap bagi profesi guru . guru yang professional mutlaq harus menguasai9 bahan yang akan diajarkannya. Adanya buku pelajaran yang dapat dibaca oleh siswa, tidak mengandung arti bahwa guru tak perlu menguasai bahan. Sungguh ironis jika terjadi siswa lebih dahulu mengetahui tentang sesuatu daripada guru. Memang guru tidak mungkin serba tahu, tetapi setiap guru dituntut untuk memiliki pengetahuan umum yang luas dan mendalami keahliannya atau mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Penguasaan guru akan bahan pelajaran sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa proses dan hasil belajar siswa bergantung pada penguasaan pelajaran oleh guru dan keterampilan mengajarnya. Pendapat ini diperkuat oleh Hilda Taba, seorang pakar pendidikan, yang mengatakan bahwa efektivitas pengajaran yang dipengaruhi oleh:
· Karakteristik guru dan siswa
· Bahan pelajaran
· Aspek lai yang berkenaan dengan situasi pelajaran
Memang terdapat hubungan yang positif antara penguasaan bahan oleh guru dengan hasil belajar siswa. Artinya, makin tinggi penguasaan bahan oleh guru makin tinggi pula hasil belajar yang dicapai siswa. Penelitian dalam bidang pendidikan kependidikan di Indonesia menunjukkan bahwa 26.17% dari hasil belajar siswa dipengaruhi oleh penguasaan guru dalam hal materi pelajaran.

B. Guru Sebagai Profesi
Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlin khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

B.1 Kriteria Profesi Guru:
1) Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual
2) Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus
3) Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama (bandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka)
4) Jabatan yang memerlukan ‘latihan dalam jabatan’ yang berkesinambungan
5) Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen
6) Jabatan yang menentukan baku (standar) sendiri
7) Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi
8) Jabatan yang mempunyai organisasi prfesional yang kuat dan terjalin erat

B.2 Tugas Guru secara Profesional:
1) Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi
2) Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuannya
3) Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahpan tugas perkembangan peserta didik
4) Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajaran yang diterimanya
5) Sesuai dengan prinsip repetisi dalam proses pembelajaran, diharapakan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas
6) Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaran dan/ atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari
7) Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatinya
8) Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan social, baik dalam kelas maupun di luar kelas
9) Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut

C. Standar Kompetensi Guru
PP. No. 19 tahun 2005, pasal 28 (ayat 1) menggarisbawahi bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Guru yang memiliki kualifikasi akademik sesuai dengan surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 034/U/2003, bahwa tenaga kepedidikan harus memiliki pengetahuan kependidikan, keterampilan-keterampilan yang telah diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah, dan surat keputusan menteri. Sekarang ini tenaga kependidikan dapat saja diangkat dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Sebelumnya diangkat menjadi guru, mereka harus mendapat pendidikan, latihan, dan bimbingan tentang pengetahuan keguruan, atau mendapat ijazah akta IV dari perguruan tinggi yang telah terakreditasi. Namun demikian dalam pasal 28 (ayat 4) seseoran dapat saja disingkat menjadi pendidik tanpa memiliki ijazah dan atau sertifikasi keahlian, manakah memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
Syarat menjadi guru harus sehat jasmani dan rohani, menunjukkan bahwa tugas guru adalah tugas yag berta lahir dan bathin, guru tidak mungkin dapat melakukan pembelajaran kalau selalu dalam keadaan sakit jasmani, atau uru memiliki penyakit yang menular yang akan menjangkiti siswa-siswanya, kesehatan jasmani akan menopang keberhasilan guru mengajar dikelas. Guru dituntut prima, cekatan, dan bewibawa dalam memberi penjelasan. Disamping itu tidak dibenarkan menjadi guru, bagi orang yang tidak sehat jasmani dan rohani.
Selanjutnya dalam pasal 29 (ayat 1-6) diperegaskan kualifikasi guru untuk masing-masing jenjang, sebagai berikut:
(1) pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (DIV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan
c. sertifikasi profesi guru untuk PAUD
(2) pedidikan pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma IV (D-IV) atau sarjana (SI)
b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan
c. sertifikasi profesi guru untuk SD/MI
(3) pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
b. latar belakang pendidikan inggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c. sertifikasi profesi guru untuk SMP/MTs
(4) pendidikn pada SMA/MA, atau bentuk lain sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tingggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yangb di ajarkan, dan
c. sertufikasi profesi guru untuk SMA/MA
(5) pendidikan pada SLB/SMPLB/SMALB, atau bentuk lain sederajat memiliki
a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atsarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
b. sertifikasi profesi guru untuk SDLB/SMPLB/SMALB
(6) pendidikan pada SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:
a. kualifikasi akademk pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan sertifikasi profesi guru untuk SMK/MAK

C.1 Standar kompetensi inti pendidik adalah:
a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual
b. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
c. Bersifat inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi
d. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung bidang pengembangan yang diampu
e. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang diampu
f. Mengembangkan materi bidang pengembangan yang diampu secara kreatif
g. menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
h. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu
i. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik
j. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik
k. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki
l. Berkomunikasi secara efektif, simpatik, dan santun dengan peserta didik
m. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
n. Memanfaatkan hasil penilaiann dan evaluasi untuk kepentingan kegiatan pengembangan
o. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas kegiatan pengemabangan
p. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat
q. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
r. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
s. Mengembangkan keprofesian secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
t. Memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri
u. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
v. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru
w. Beradaptasi di temapt bertugas di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki keragaman social budaya
x. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulusan atau bentuk lain.
C.2 Komponen Standar Kompetensi Guru
Standar Kompetensi Guru meliputi tiga komponen yaitu :
1) Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan
2) Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional sesuai materi pembelajaran
3) Pengembangan Profesi
Masing-masing komponen kompetensi mencakup seperangkat kompetensi. Selain ketiga komponen kompetensi tersebut, guru sebagai pribadi yang utuh harus juga memiliki sikap dan kepribadian yang positip dimana sikap dan kepribadian tersebut senantiasa melingkupi dan melekat pada setiap komponen kompetensi yang menunjang profesi guru.

C.3 Rumusan Standar Kompetensi Guru
Telah dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Guru meliputi 3 (tiga) komponen kompetensi dan masing-masing komponen kompetensi terdiri atas beberapa unit kompetensi. Secara keseluruhan Standar Kompetensi Guru adalah sebagai berikut :
· Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan, yang terdiri atas,
Sub Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran :
A. Menyusun rencana pembelajaran
B. Melaksanakan pembelajaran
C. Menilai prestasi belajar peserta didik.
D. Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.
Sub Komponen Kompetensi Wawasan Kependidikan :
1. Memahami landasan kependidikan
2. Memahami kebijakan pendidikan
3. Memahami tingkat perkembangan siswa
4. Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya
5. Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan
6. Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan
· Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional, yang terdiri atas :
7. Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran
· Komponen Kompetensi Pengembangan Profesi terdiri atas :
Mengembangkan profesi

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pengertian Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Kompetensi ini terdiri dari kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi professional dan kompetensi sosial.
Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlin khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
Guru yang memiliki kualifikasi akademik sesuai dengan surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 034/U/2003, bahwa tenaga kepedidikan harus memiliki pengetahuan kependidikan, keterampilan-keterampilan yang telah diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah, dan surat keputusan menteri. Sekarang ini tenaga kependidikan dapat saja diangkat dari berbagai latar belakang disiplin ilmu.
Standar Kompetensi Guru meliputi tiga komponen yaitu : (1) Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan; (2) Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional sesuai materi pembelajaran; (3) Pengembangan Profesi. Masing-masing komponen kompetensi mencakup seperangkat kompetensi. Selain ketiga komponen kompetensi tersebut, guru sebagai pribadi yang utuh harus juga memiliki sikap dan kepribadian yang positip dimana sikap dan kepribadian tersebut senantiasa melingkupi dan melekat pada setiap komponen kompetensi yang menunjang profesi guru.

DAFTAR PUSTAKA

Barizi, Ahmad. 2009. Menjadi Guru Unggul. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Hamzah. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Kunandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syaefudin, Udin. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Alfabeta
Usman, Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yamin, Martinis. 2009. Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Pers.
Yamin, Martinis. 2006. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press.
http://www.standarguru.html di akses pada tanggal 22 oktober 2009, pukul 19.00
http://www.standar-kompetensi-guru.htm di akses pada tanggal 22 oktober 2009, pukul 19.00
http://www.tarakankota.go.id di akses pada tanggal 22 oktober 2009, pukul 19.00

6 Tanggapan to “Kompetensi Profesionalisme Guru”

  1. Kayaknya nda ada gunanya tuch kompetensi guru, kebanyakan direkayasa bisar dapat sertifikasi…maafff!!!!, tapi saya juga seorang guru…

    NASIB MASJID AL-AQSA DAN PENDIRIAN BAIT SUCI KE-III DI ISRAEL.
    http://www.penuai.wordpress.com

    • din07130062 Says:

      ya mungkin mayoritas seperti itu,, klo mnurut saya sih kurang ksadaran aja bagi mreka para guru. coz mugkin mreka hanya menomorsatukan honor,, maaf!!!.. saya hanya seorang mahasiswi smester lima FKIP. Saya juga prihatin dengan kondisi mental guru yang saya rasa cukup mempihatinkan. akan tetapi,, sperti yg Dosen saya jelaskan, sertifikasi atau diklat ini diberi masa 2 tahun untuk pemantauan,. Yang mana jika dalam masa 2 tahun itu paradigma guru tidak berubah,, artinya masih menggunakan paradigma lama yang mengajarnya cenderung monoton, maka sertifikasi itu akan dicabut. So, anda kan juga seorang guru, begitupun saya calon guru, semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Amien………………

  2. komplet bo…. i like it.., thanks…

  3. muhammad abduh Says:

    siiip,,,,,,, kembangkan lagi buuuu,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: